Sunday, 10 August 2014

Tentang kesendirian

Takdir Allah membawa saya jauh meninggalkan keluarga. Ada banyak waktu ketika merindui mereka, ada banyak kemurungan meninggalkan mereka, walau saat pergi wajah saya diceriakan, wajah keluargapun saat melepas juga diceriakan. Saat jauh itu ada banyak waktu untuk merenungi sebermanfaat apakah perjalanan hidup, seberapa sebermanfaat apa waktu-waktu berharga kebersamaan. Merenungi seberapa manfaat peran masing-masing dalam menumbuhkan keluarga. Mungkin inilah yang Allah hendak ajarkan dalam kesendirian perjalanan ini, melihat kembali apa-apa yang sehari-hari ada didekat saya dari jarak yang jauh, tentu saja agar kemudian bisa memandang dengan cara pandang yang baru dan berbeda.

Yang pernah saya dapatkan pelajaran dalam kesendirian. (1) Saya mendapat pelajaran bahwa Keluarga harus tidak menuhankan satu dengan yang lainnya, anggota keluarga hanya takut pada Allah, rasa hormat antar anggota keluarga adalah karena mentatati perintah Allah. Saya tidak dapat membayangkan apakah ada kebahagiaan dalam suatu keluarga yang tidak menaruh takut pada Allah, tidak menaruh taat sebagai agenda keseharian anggota keluarga. kalau ada yang menjawab ada..tolong saya diberitahu dimana itu.

(2) Keluarga tidak boleh menggunakan topeng ataupun munafik, tiada kepura-puraan. Katakan "ya" sepenuuhnya dengan hati, maupun lisan dan juga perbuatan, demikian juga bila berkata "tidak". Saya dan istri punya penanda dalam menilai anak-anak kami kalau ada yang tidak sesuai antara apa yang ada di hati mereka dengan apa yang mereka ucapkan. Ada yang bisa dilihat dari bentuk hidungnya, tatapan mata, maupun gerak keseluruhan tubuh mereka. demikian pula anak-anak, hati mereka bisa merasakan apakh kita tulus dan jujur dalam berbuat dan berkata-kata

(3) Sakinah dalam keluarga itu datang dari Allah pada diri kita, bukan dari pasangan kita, bukan dari anak2 kita, jadi jangan terlalu bersedih kalau belum merasa sakinah atas perlakuan pasangan ataupun anak2, kembalikan kepada Allah, mintakan kepada Allah. Jika masing-masing anggota keluarga membuat sakinah maka satu keluargaitupun akan merasakan sakinah.

(4) Dalam perjalanan ini saya juga merasakan bahwa mengajak kebaikan dan menjauhi keburukan hakikatnya adalah untuk diri saya sendiri, bukan untuk orang lain. Kalau perjalan ini tidak membuat saya lebih baik, malah membuat saya berperilaku seperti orang lain yang tidak dicintai Allah dan rasulNya, tentu sia-sialah perjalanan ini. Dalam setiap takdir Allah untuk meninggalkan keluarga, selalu ada cita untuk mengajak pada kebaikan dan meninggalkan keburukan, terutama teruntuk diri sendiri dan untuk mengajak orang lain...saya merasa ini sebuah KEWAJIBAN, agenda acara yang harus saya lakukan dalam setiap "perjalanan".

Melihat kembali apa yang sudah saya pelajari diatas, bagi saya ada baiknya tradisi muhasabah dalam perjalanan kesendirian ini menjadi hal yang rutin, bukan hanya terjadi ketika masalah sudah menghampiri. Saat dalam kesendirian, Ada banyak kesyukuran didalam melihat satu persatu episode kehidupan. Kalau saya terus tergilas oleh rutinitas, kapankah saya menyadari bahwa pusat-pusat kebahagiaan itu begitu dekatnya dan terus berkelindan tiada putusnya, dan secara alamiah itu bisa tidak saya sadari. Perjalanan dalam sendiri ini memperlihatkan cinta, menguatkan cinta, mendewasakan cinta, juga mengajarkan saya cinta dan cara mencintai. Terkadang saat-saat dalam kebersamaan adalah memudahkan, melenakan, dan melupakan kesyukuran, jauh dari rasa rindu. Sebenarnya, jauh dari rasa rindu itu sangat menyiksa bagi para pecinta sejati. Boleh jadi, salah satunya, jarak yang terentang bisa menjadi muasal munculnya rindu. Maka saat pulang cintapun menjadi membaru, menguat dan memburu.

Kalaupun dikemudian hari saya harus kembali terpisah dengan keluarga, maka saya akan niatkan jika Allah kehendaki untuk kembali kepada mereka, semua perilaku dan hati saya dalam keadaan yang lebih baik dibanding saat saya meninggalkan mereka sebelumnya. Istriku, anak-anaku, Tetaplah dalam doa dan sujud ketaqwaan, sehingga Allah akan perjumpakan kita dalam sebaik-baik keadaan dan sebaik-baik tempat, di dunia maupun di akhirat.

Medio Agustus 2014....Weekend sendiri di Bandung

No comments:

Post a Comment