Tuesday, 18 November 2014

Tentang Peringatan



Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan Sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Quran).

(QS Taha (20): 99)

Allah karuniakan visualisasi bagi seluruh indera kita untuk mencerap gambaran masa depan dari kisah-kisah masa lalu juga kisah-kisah masa depan. 

Rabb jagalah kami untuk tetapi jalanMu dan jangan palingkan kami darinya setelah sedemikian terang Engkau tunjukkan petunjuk-petunjukMu.

Tuesday, 11 November 2014

Tentang doa nabi Ayyub

Allah berfirman dalam Al-Quran:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“(ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang".

(QS. Al-Anbiya: 83)

Tentang Pahlawan

Pahlawan tidak selalu harus menjadi nama suatu jalan, demikianpun penyematan gelarnya tidak selalu harus melalui  seremoni  penganugerahan oleh Presiden.

Bagi saya pahlawan bisa siapa saja yang mempunyai rekam jejak dan berimplikasi pada kebaikan bagi orang lain. Pahlawan adalah seseorang yang bisa dituturkan perilakunya oleh orang terdekatnya, bisa dituturkan oleh anaknya, dituturkan oleh isterinya, dituturkan oleh suaminya, dituturkan oleh orang tuanya, dituturkan oleh saudaranya, bahkan oleh teman ataupun tetangganya.

Bagi saya arti yang sederhana dari kata pahlawan adalah orang yang membuat rindu serindunya bila tak segera menjumpanya. Orang yang memberi semangat berkebaikan walau hanya sekedar mengingat kenanginya. Orang yang dalam senyapnya sebenarnya bertutur banyak kebajikan untuk ditiru dalam amal keseharian. Orang yang dalam kerjanya mendahului kata, banyak berpeluh tiada mengeluh, contohi tiada minta dicontoh. Orang yang diamnyapun adalah menggerakkan.

Pahlawan bagi bangsa seharusnya juga pahlawan bagi tetangganya, juga pahlawan bagi kerabatnya, juga pahlawan bagi adik dan kakaknya, juga pahlawan bagi orang tua dan anaknya, juga pahlawan bagi alam, tumbuhan dan hewan disekitarnya, Pahlawan bagi Isteri atau suaminya. Sudahkan kita menjadi pribadi yang terekam sebagai sosok pahlawan bagi orang-orang terdekat kita? Ijinkan saya sampaikan arti pahlawan itu dari kacamata seorang ayah:

Selepas perjalanan luar kota, kami sampai dirumah dengan rasa penat dan kantuk yang sangat. Perjalanan menyusuri punggungan Ungaran dan Merbabu kami mulai pukul 4 sore. Pengalaman pertama bagi kami sekeluarga yang sesore itu melewati jalanan tanpa lampu penerangan di pinggir jalan. Dan kami putuskan untuk jamak takhir maghrib dan isya sesampainya dirumah agar tidak terlalu malam melalui jalanan gelap itu.

Apa mau dikata, begitu masuk rumah, kami sudah terlelap entah dimana. Saya sendiri sudah ambruk begitu masuk ruang tengah. Sampai kemudian tidur saya diusik tangan kecil yang menggoyang-goyang lengan dan berkata, "Bi, aku belum sholat Maghrib dan Isya". Saya buka mata, ternyata putri kami yang membangunkan. Saya lihat jam di dinding dan sudah menunjukkan jam 23.30. Sayapun segera menjawab, "Ya nak, abi juga belum, yuk kita sholat bareng". Selesai menunaikan sholat, saya lihat putri kami menyiapkan satu persatu perlengkapan sekolahnya untuk esok hari, dari mulai buku-bukunya sampai seragam dan jilbabnya. Sampai dia menanyakan ke saya tentang jilbabnya, "Apa jilbab ini terlihat kusut?" Setalah saya amati, saya jawab,"Ya kusut". Tanpa banyak berkata lagi dia persiapkan setrika dan alasnya, dia hanya minta saya untuk menghubungkan setrika dengan kontak listrik di dinding. Karena memang kami belum memperbolehkan anak-anak untuk mandiri kalau terkait dengan listrik. Selesai mensetrika, putri kamipun minta ijin gosok gigi dan tidur. 

Saya lepas anak saya ke alam tidurnya dengan melantunkan doa sebelum tidur. Saya pandangi wajahnya dan renungi pelajaran dini hari itu. Saya hanya bilang Nak, walaupun usiamu masih 8 tahun, kamu pahlawanku hari ini. Engkau ajarkan makna Laa Lighod illal Jannah (tiada masa depan kecuali surga) dengan tanpa banyak berkata-kata. Engkau ajarkan makna kata "bersiap" pada abahmu yang sering lalai dengan kata itu.


Maka anak-anak sayapun adalah pahlawan yang hidup bagi saya.

Sabtu siang itu saya dan putra bungsu kami berjamah dhuhur di masjid Balaikota. Masjid itu menjadi favorit anak-anak kami selain karena dekat dengan rumah, juga punya tempat luncuran. Demikian anak kami menamakan sebuah tempat tinggi yang merupakan pintu gerbang masjid yang bisa digunakan untuk meluncur turun berkendara sepeda mereka. Selalu setiap selesai sholat berjamaah, si bungsu menanyakan, "Sholat Rawatib tidak?" karena saat itu kami selesai sholat dhuhur maka saya jawab " Iya, 2 rakaat". Di luar kebiasaannya, ternyata tanpa berkata-kata lagi, dia langsung berdiri mencari tempat, dan selanjutnya  melaksanakan sholat rawatib bakdiyah dhuhur. Sayapun dalam beberapa detik mentakjubinya, Masya Allah. Begitulah seharusnya setiap diri kita, setelah mendapatkan ilmu, maka selanjutnya mengamalkannya tanpa banyak bertanya lagi. Hari itupun saya memperoleh pahlawan hidup lagi.

Ya Rabb, Inna solati, wanusuki, wamahyaya, wamamati, Lillahirabbil 'alamin. Ya Rasulullah, terimalah salam rindu kami yang seringkali lalai, rindu dari kami yang seharusnya melebihi rindunya sebuah pohon kurma tempatmu bersandar kala di masjidmu.




Tentang Al Quds

“Kami adalah pelayan al Quds, tanah dan batu al Quds. Kami tidak membedakan antara membela masjid al Aqsha al Mubarak dan Ka’bah al Musyarafah. Perlindungan dan pembelaan kami untuk keduanya merupakan perintah ilahi bagi kami, Sepanjang masa kota al Quds merupakan cahaya mata kami, maka perlindungan dan pembelaan kami adalah perintah ilahi bagi kami, sepanjang hayat kami” .

Dari Perdana Menteri, Turki Ahmed Davudoglu, dengan beberapa perubahan redaksi.

Wednesday, 5 November 2014

Tentang jodoh (lagi)

Jatuh cintalah saat engkau sudah siap dan sedang mempersiapkan untuk menikah. Karena akan menutup masalah-masalah yang tidak perlu engkau hadapi ketika belum tiba waktunya.

Jatuh cinta saat belum siap menikah, jika masih berstatus pelajar, dan harus menyelesaikan sekolah, bisa jadi engkau akan pusing mencari solusi bagaimana menikah saat masih berstatus pelajar.

Jika engkau sudah siap jatuh cinta, maka Jatuh cintalah engkau pada lawan jenis yang sudah siap dan sedang mempersiapkan untuk menikah. Karena akan menutup masalah-masalah yang tidak perlu engkau temui.

Jatuh cinta pada orang yang belum siap menikah akan menambah panjang daftar sakit hati bersamaan dengan waktu tunggu yang tidak jelas dimana ujungnya.

Umur dan rizki hanyalah pada Allah muaranya.

Dari sini bisa difahami, bahwa jodoh bukanlah perkara yang sudah ditetapkan di Lauhul Mahfudz, tetapi ia adalah mu’amalah biasa sebagaimana mu’amalah yang lain, yang berada di area yang dikuasai manusia dan manusia dihisab atasnya. Sehingga pada proses menuju pernikahan dan jatuh cintanya itu menjadi bagian yang dihisab nantinya

Namun pemahaman bahwa jodoh adalah sesuatu yang berada dalam area yang dikuasai manusia bukan berarti pengingkaran bahwa Allah adalah ( اْلمُدَبِّرُ ) yang bersifat Maha Mengatur dan ( الْحَاكِمُ ) yang Maha Memutuskan. Setiap Mukmin ketika melaksanakan suatu aktivitas dalam area yang dikuasainya kemudian ternyata apa yang terjadi di luar harapannya dan di luar dugaannya, maka ia harus ridlo terhadap hal itu dan mengimani bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Mengatur.

Rezeki setiap hamba telah dijamin oleh Allah. Allah pun telah menetapkan kadar dan takaran bagian atau porsi rezeki tiap hamba (Lihat QS. Hud [11]: 6)

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibn Mas’ud bahwa pada usia kandungan 120 hari, Allah mengutus malaikat untuk menuliskan beberapa ketetapan atas janin itu, termasuk ketetapan rezeki dan ajalnya. Para ulama menjelaskan, yaitu ketetapan sedikit dan banyaknya rezeki. Sedikit dan banyaknya rezeki atau kaya dan miskinnya seorang hamba tidak akan dihisab oleh Allah karena itu semata adalah ketetapan Allah.

Jodoh, pernikahan adalah pilihan, bukan sesuatu yang telah ditetapkan ada pada setiap manusia.
QS An Nisa : 4. 

Tentang lepas dakwah

dari NAI:

Hanya dengan ikhlas maka jiwamu akan menenang, karena disana engkau akan mendapat pujian dari rabb yang maha agung dan di tonton para malaikat!!
Disanalah jiwamu menemui telaganya, ia melepas dahaga dan berbahagia. Ia tenang karena keyakinan bahwa amalnya telah terdokumentasi dengan baik, ia tenang karena passive income untuk pendapatan akhiratnya terus bertumpuk-tumpuk hingga kelangit!

Selama engkau berharap kepada manusia, maka diujung sana akan ada kekecewaan. Ini pelajaran untukmu, saudaraku yang merasa letih dalam dakwah. Ingatlah, bahwa futur itu cerminan rusaknya akidah dan ketidakpahaman tentang hakikat dan tujuan penciptaan..

Kita ini bukan penduduk asli bumi, kita ini mahluk asing di bumi ini. Makanya engkau kecewa, karena engkau beramal untuk manusia, bekerja untuk dunia.

Tuesday, 4 November 2014

Tentang Nonkognitif

Tambahkan satu aspek lagi, yaitu aspek spiritual: Istighfar dan mohonkan pada Allah untuk diberi petunjuk dalam segala urusan, tawakal dan ikhlas. Maka mendapatkan akhirat dan duniapun menjadi pengekor dibelakangnya. Tertempatkan dunia sebagai pendorong saja, bukan malah berada didepan sebagai tujuan.

Rhenald Kasali:

Penerima Nobel Ekonomi tahun 2000, James Heckman menemukan variabel-variabel nonkognitif yang justru tak diberikan di sekolah menjadi penentu keberhasilan seseorang untuk memutus mata rantai kemiskinan. Variabel itu adalah keterampilan meregulasi diri, mulai dari mengendalikan perhatian dan perbuatan, sampai kemampuan mengelola daya tahan (persistensi), menghadapi tekanan, menunda kenikmatan, ketekunan menghadapi kejenuhan, dan kecenderungan untuk menjalankan rencana.

Nah keterampilan-keterampilan seperti itu, menurut Heckman, sering kali absen dalam sekolah kognitif. Tanpa itu, anak-anak yang dibesarkan dari keluarga menengah ke atas pun akan jatuh pada lembah kemiskinan.


Ilmu nonkognisi itu belakangan naik kelas, menjadi metakognisi: faktor pembentuk yang paling penting di balik lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar, wirausaha kelas dunia, dan praktisi-praktisi andal. Kemampuan bergerak, berinisiatif, self discipline, menahan diri, fokus, respek, berhubungan baik dengan orang lain, tahu membedakan kebenaran dengan pembenaran, mampu membuka dan mencari "pintu" adalah fondasi penting bagi pembaharuan, dan kehidupan yang  produktif.  

The secret of getting ahead is getting started.—MARK TWAIN 
Columbus berfilsafat, "Kalau Anda tak pernah kesasar, maka kita tak akan pernah menemukan jalan baru."